Akhirnya Berani ke Psikeater
Hai hai hai, Yuka Chau come back.
It's been a long time guys, how are you?
Okay, kali ini bukan review buku, tapi aku mau cerita ke kalian. Seperti judulnya, cerita kali ini tentang aku dan penyakitku. Oke, mari aku jelaskan.
Jadi sebenernya, aku punya keinginan untuk 'hilang dari dunia ini' dari kelas 3 SMP, sekitar 7 tahun yang lalu. Waktu itu, aku juga dapet banyak verbal bullying dari temen-temen sekelas. Dan aku kira itu hal biasa, jadi lewat begitu aja. Terus, ketika MOS-Masa Orientasi Sekolah (kali aja pada lupa kepanjangannya wkwk)-SMA, aku yang telat dan khawatir banget, minta nenekku untuk kepangin aku. Pada saat itu, langsung spontan bilang begini ke nenekku keinginanku untuk bunuh diri. Aku nggak bisa lihat ekspresi nenekku, tapi aku tau beliau kaget. Beliau diem sebentar, terus nasehatin aku, kalau aku nggak boleh nyerah, selesai tugasnya seberapa pun, berarti dikumpulnya segitu aja.
Dan setelah itu, aku melewati semua hari dengan biasa, tapi keinginan bunuh diri mulai muncul sedikit demi sedikit. Pernah juga, ada suatu hari aku langsung lempar cutter karena aku kebayang 'gimana kalau aku goresin cutter ini ke tangan?'.
Semakin lama semakin sering, sampai aku kuliah. Untungnya aku terbiasa untuk menuliskan emosiku di kertas, jadi nggak sampai nyakitin diri (tapi keinginannya masih tetep ada). Dan akhirnya aku pun bertanya-tanya, aku ni kenapa sih? Kenapa setiap orang laing bertengkar (terutama yang pakai suara tinggi), langsung bikin aku gemeteran dan nangis. Terus inget-inget lagi, dulu orang tuaku sering kayak begitu. Dan tetangga-tetanggaku yang berantem karena rumah tangga mereka (sumpah nggak ngerti kenapa berantemnya di deket rumahku, yang sampai kedengeran di kamarku. Atau nggak beneran di depan rumahku). Kayaknya beneran diuji banget sama Tuhan. Bahkan ketika temen sekelasku adu argumen nggak sehat, aku harus keluar kelas karena nggak kuat dan akhirnya nangis. Aku tahu aku trauma, dan trauma ini ganggu hidupku banget.
Dengan semua kejadian yang bikin aku trauma, aku mulai ada rasa untuk pergi ke psikolog (jurusan impianku selain sastra jepang hihi), tapi ketahan mulu. Entar aja deh, nanti lah, abis lepas bpjs (karena tanggungan orang tua), dan pemikiran lainnya.
Puncaknya di 2021. Tahun terburukku. Nggak banyak yang aku inget, tapi setelah baca catatan emosiku, tahun ini tuh bikin aku pengen mati paling nggak seminggu sekali. Capek banget, tapi bodohnya aku masih aja tetep ditahan. Sampai akhirnya, di 2022, aku inget ucapanku di salah satu catetan emosiku, janji bakalan dateng ke psikolog/psikeater ya. You need help. Dan setelah mikir panjang, aku cerita ke saudara kakekku di desa, dan mereka bilang "Ya, kalau mau ke psokolog, silahkan, tapi janganlan kalau bisa. Nanti kamu minum obat seumur hidup, kecanduan.". Terus, setelah pulang dari desa, aku cerita ke nenek sama adik-adikku. Dan untungnya, respon mereka positif.
Aku terus beraniin diri minta rujukan, jadi pergilah aku ke faskes 1. Btw, ini nggak tau kenapa faskes satu saya pindah-pindah terus, serius keselnya setengah mati faskes pindah-pindah terus. Nah, dari faskes satu, aku bilang langsung ke dokternya (kebetulan faskesku di dokter keluarga), "Dok, saya mau minta rujukan ke dokter jiwa,". Kemudian dokternya nanya beberapa pertanyaan, dan aku langsung di rujuk ke RS permintaanku. Diagnosis sementaraku itu depresi (but, actually, i know it's not depressive).
Pas lagi nunggu keluarnya surat rujukan, petugas administrasinya bilang begini sama temennya, "Oh, aku pernah ada di situasi itu, waktu itu udah lama banget, jadi masih harus bayar sendiri. Bayangin aja, konsultasi yang cuma ditanya beberapa pertanyaan aja bayarnya 150, belum lagi obatnya 200. Itu sekali periksa hampir 400an. Dan ternyata obatnya cuma lakuin apa yang buat kamu seneng". Mohon maaf nih, itu kan ruangan kecil, otomatis kedengeran di aku lah ya, tapi aku diemin aja, karena aku yakin kalau aku nggak depresi. Secara aku masih lakuin 3 hobiku, ya pokoknya yakin deh bukan depresi.
Nah, akhirnya bisa ke faskes 2, aku langsung daftar online di poliklinik RS nya, dan periksa. Awalnya tuh degdegan, tapi setelah dokternya nyapa dan aku cerita semuanya, jadinya plong. Kemudian dokternya nanya-nanya kejadian yang berhubungan sama pemicunya dan lain-lain. Setelah didiagnosis, diresepin obat, dan janji kontrol seminggu kemudian. Dokternya baik banget, semangatin aku.
Setelah dari dokter, aku baru sadar, kenapa nggak dari lama aku konsulnya. Karena setelah tau aku kenapa dan penanganannya, aku jadi tenang serasa nggak ada beban. Oh iya, aku didiagnosis dengan BPD (Borderline Personality Disorder) atau Gangguan Kepribadian Ambang. BPD ini ada banyak gejalanya, dan gejalaku itu perubahan emosi. Stressor atau pemicunya, itu bapakku sendiri.
Jadi, buat kalian, jangan takut buat pergi ke psokolog/psikeater. Udah banyak kreator penyintas kesehatan mental. Banyak dari psokolog dan psikeater juga yang buat konten di tiktok. Terus juga, kalau nggak mau tatap muka karena takut dan nggak ada psikolog terdekat, bisa di aplikasi konseling online.
Semangat kalian,
Tungguin updateku tentang perkembanganku selama konseling ya
Komentar
Posting Komentar